ANONIM TRAVELER
(Boleh aku
meminta segala hal yang tak bisa dipinta di sana?)
Awan berubah
menjadi hitam legam, memenuhi seisi langit dan tidak ada cahaya yang menyinari
Tidak! Di
ujung sana aku melihat bulan memandangi, dia berwarna ke kekuningan seperti
cahaya matahari. Lebih pekat dan juga legam. Jalanan tertuju padanya, seakan
menyuruhku berjalan dan menggapainya.
Di sepanjang
jalanan hanya terdapat rumput yang mengitari dengan semak belukar yang
menaungi.
Seseorang dengan suara gemuruh disekelilingnya
bergumam, “KEMARILAH, AKU AKAN MEMBUATMU
LUPA AKAN SEMUA KENANGAN BURUKMU.”
Riuh
gemerisik dan juga debam hebat mengisi ruangan, titik-titik kecil memadati ruangan-mengitari
seisi kepala. Apa ini adalah ajal di mana
aku tidak akan merasakan kehampaan cukup dalam, mengosongkan segala menyakitkan
dalam memori?
Bayang-bayang terus berhamburan, menciptakan
berbagai film kusut dalam benak, samar dan juga akromatik di dalamnya. Aku
merasa mual, sungguh ini sangat memabukkan.
Beberapa roll gulungan film dan samar terus
mengitari dengan rekaman yang membuatku merasa kesakitan dibuatnya. Adegan
pertama dari roll itu terhubung dengan adegan selanjutnya, mempertontonkan
berbagai adegan kabur dan juga ekstremitas.
“H … A … N … C … U … R … K … A … N D … I … A …
hacurkan semua raga dan jiwa dalam dirinya!!!”
Suara itu terbata-bata dalam adegan gulungan
film itu, dengan suara teriakkan dan juga amukkan yang cukup intens.
***
APPENZEL
1988
Di
perbatasan darat dan juga lautan Appenzel pada siang hari pukul 13.30 siang.
Aku pergi menelusuri jalanan, mengunjungi sebuah tempat makan bernama "Tabak Klaer" memasuki tempat makan
itu, untuk mengisi perutku yang sudah bergemuruh. Aku duduk di tempat terbuka, melihat
orang-orang berlalu lalang sembari menunggu pesanan yang sudah kupesan. Hari
itu cuaca sudah terasa dingin dengan awan keabuan, daun bergemerisik
berjatuhan. Musim dingin tahun ini sepertinya akan menjadi musim dingin terpanjang
bagiku, aku melipatkan jaketku dan menegakkan kerahku supaya leherku tetap
hangat dibuatnya. Aku memesan secangkir cokelat panas terlebih dahulu kepada
pelayan, “Permisi saya ingin memesan satu cangkir cokelat panas?”
Cokelat panas itu tiba dengan sangat cepat,
aku menikmatinya;menyesapnya dan merasakannya dalam-dalam sehingga lidahku
merasakan rasa pahit cukup manis. Tubuhku di lemaskan, bersender di atas kursi
yang terlihat untuk sepasang pasangan. Cukup ironi tapi sepertinya aku
menikmati kesendirian dan juga keheningan ini.
Kau tahu? Orang-orang selalu berkata bahwa
sebuah keheningan merupakan tanda bahwa kau tidak perduli akan keberadaan orang
lain.
Mengesampingkan hal itu pikiranku seperti
tersamarkan oleh keramaian, seolah ingatan ini kabur dan menghilang secara
perlahan. Aku tidak terlalu memusingkannnya dan terus melanjutkan perjalanan
yang tidak berakhir ini tanpa tujuan yang tidak kumiliki. Sesaat kemudian
ketika aku ingin menyerahkan beberapa lembar uang untuk membayar secangkir
cokelat panas yang kupesan dan juga sebuah camilan, tiba-tiba aku terhuyung dan
terjatuh. Aku tersadar sesaatnya dan berada di kekosongan, hanya ada kapas putih
mengelilingi. Tak lama kemudian ada sebuah rumah di sana-seperti menatapku
lekat, menyuruhku untuk menyutubuhi kediamannya. Aku bergerak tak beraturan
dengan kondisi yang sama-di mana kaki ini tak beralaskan apapun.
***
SWITZERLAND
1950
“Apakah kamu ingin ikut dengan kami?” tanya
dirinya dari kejauhan, sembari memerhatikan diriku yang sedang membaca buku di
teras. “Ya, aku akan memikirkannya.” Jawab tenang diriku, beberapa saat aku
menutup bukuku mengampiri dirinya dan menyetujui ajakannya.
Switzerland pada tahun 1950, cuaca terasa
berangin. Aku melihat salju berjatuhan,melihat dalam kaca yang sudah berembun
karena cuaca salju itu mulai berjatuhan secara acak, aku menuruni tangga,
meminta izin kepada nenekku yang sedang terduduk membaca sebuah koran
permberitaan.
“Nenek?”
“Sebentar, aku sedang membaca bagian
terpenting dari berita ini.” Dia sama sekali tidak memandangku, hanya terpaku
pada selambar kertas yang menyiarkan berita konflik palsu yang tak kunjung
berakhir. Aku menunggunya sampai dia selesai dengan bacaannya. Koran itu ditutupnya
menatapku heran, sembari bertanya. “Apa yang ingin kau bicarakan?”
“Aku akan bersenang-senang dengan
teman-temanku di gunung Alps, ini adalah hari pertama liburanku. Apakah kamu
mengizinkannya?” aku bertanya penuh ragu, karena nenekku adalah sesosok wanita
tegas dan keras. Namun, teramat baik bagiku. Tak butuh waktu lama, dia
menjawab, “aku akan mengizinkannya selama itu membuatmu senang, sayang.”
Mendengar hal itu aku kegirangan, aku tak ingin memperlihatkan ekspresi ini dan
bergegas kembali ke kamar mempersiapkan segalanya untuk lusa nanti pergi
menanjak gunung Alps dan bermain skitting. Hari pertama aku menyiapkan
berbagai pelengkapan untuk menanjak, pelengkapan itu tidak lebih hanya
mempersiapkan baju tebal dan juga barang yang dipentingkan untuk berada di
atas. Hari kedua aku dijemput oleh mereka, menaiki angkutan besar bernama C7
Jeep, kendaraan dengan badan terbuka yang bisa menampung 3-4 orang saja.
Kebetulan kita hanya berempat dan mungkin saja yang lainnya akan menyusul
dengan kendaraan yang serupa.
"Hei, apakah kamu mempunyai semua
perlengkapannya? bukankah kamu hanya mempunyai sebuah kondom di lemari
ibumu." semua tertawa keji dan sambil menancapkan gas dengan laju yang
sangat cepat.
Mereka terus mengejekku, namun disebelahku
seorang wanita berbisik. Dia berkata untuk jangan menghiraukan perkataan busuk
mereka, mereka hanya ingin bersenang-senang denganmu.
Aku mengangguk tanpa bersuara sepatah katapun.
Tersamarkan, aku tidak ingat pasti pukul
berapa kejadian itu, pria yang membawa mobil C7 Jeep menyekapku beserta teman
yang sudah mencoba menenangkanku. Aku diikat dalam kursi listrik, sedangkan
wanita itu terduduk lesu tak bersuara di lorong sana. Sebuah kertas melingkar
ditempel tepat dihadapanku, seseorang berteriak. “Wanita jalang, lihatlah
sebuah lingkaran itu.” Aku bergidik lesu, meronta ingin pergi. Namun, situasi
membuatku menuruti apa yang diucapkan lelaki itu. Aku menatap lingkaran
tersebut, menatapnya lekat sembari ditarik rambutku oleh teman dari lelaki itu.
Aku berusaha menatap sekeliling, mencari sesuatu untuk pergi dari situasi ini.
“Lihatlah ini jalang, kamu akan mendapatkan
kesenangan di alam sana.”
Seketika kesadaranku hilang dan berakhir di
tempat di mana aku merasakan kesan trauma yang cukup dalam terhadap seorang lelaki.
***
WEGGIS 1980
Aku
tidak ingat apa yang terjadi sebelum semua ini terjadi tapi aku berada di
sebuah tempat, di mana seorang pria berambut berantakan membawa sebuah canvas
yang berada digenggamannya, mengenakan cout
yang memiliki lubang di mana-nana. Dia menatapku lekat, di dekat taman. Dia
berdiri sembari terus melihat kearah jam yang sedang ia pakai, memalingkan
pandanganku dan terus berjalan dengan kaki sedikit gugup. Dari kejauhan aku masih merasakan dia teru memerhatikan
diriku dari bidikan jauh. Sekarang dia berbeda, dia terlihat memakai baret
berwarna cokelat. Menyibakkan rambut keemasannya di dalam baret itu. Tampaknya
dia terlihat membawa sebuah buku kecil dan juga koper. Dia terus menatapku dari
kejauhan. Namun sialnya mobil terus saja berlalu-lalang dan seketika orang itu
lenyap dari pandangan.
Pikiranku kian intens, sesaat melihat jalanan
tiba-tiba menjadi senyap dan sunyi. hanya ada suara gemuruh angin yang tercipta
dari lirih pepohonan.
Aku melihat sekeliling, menatap lekat-lekat. “Siapapun,
apakah ada seseorang di sini?!!”
sungguh ini terasa sunyi dan menyesakkan,
seakan semua terhenti sejenak. Aku bergerak maju, mengetuk tiap rumah yang berada
didekatku. Namun, ada sebuah rumah yang membuatku ingin bergerak maju
menghampirinya. Aku membuka pintu rumah itu, suara krit kaku membuat pintu itu
seperti tak pernah dipakai sebelumnya, sialnya rumah itupun kosong, ruang
atapnya terlihat rendah dengan keramik dan juga pola yang diulang. Rumah itu
memiliki aura sunyi dan sepi mencekam.
"Kamu membuatku gila atas perlakuanmu,
apakah kamu akan terus seperti ini. KAU BODOH, DASAR JALANG." Ruangan
menjadi riuh dengan suara teriakkan dan juga sarkasme yang terucap. Suara itu
bergema ketika aku menginjakkan kaki di atas alas yang berderit, aku melihat
perabotan Nampak bersih, mengitari seisi ruangan. Namun, anehnya aku tidak
melihat seseorang dalam rumah itu.
***
SWITZERLAND 1952
Apakah
ini adalah sebuah dejavu?
Aku berada di jalanan tempat di mana aku suka
berjalan santai di sini, mencari ilalang di tepi danau dan pergi meminta
nenekku memasakan sebuah cemilan yang terdiri dari kentang, keju, daging,
bawang dan juga buah apel. Aku tidak memusingkan apa yang terjadi, kakiku
bergerak dengan sendirinya menjumpai nenekku yang biasanya terduduk membaca
sebuah koran di teras belakang. Aku membuka pintu berderit itu, harum masakan
rosti tercium menyerbak ke dalam hidungku. “Nenek, sedang apa kau.” Tak ada
jawaban, suara derit kayu yang kuinjakkan membuat suasana terasa asing bagiku
seketika. Bau semerbak rosti tak tercium lagi, bau itu tergantikan oleh bau
darah kental. Aku mengikuti bercak darah itu, dan melihat ada sebuah tangan
tergeletak. Aku sedikit gusar, kalau-kalau terjadi sesuatu. Aku menghampiri
tangan yang berlumur darah itu, mendekatinya perlahan dengan keberanian yang
kukumpulkan. Dan suara kucing mengeong cukup keras, dia berada tepat di tangan
itu. Tangan yang sudah dipotong entah oleh siapa dan tangan siapa itu. Aku berharap ini bukan nenekku, karena
tangannya berbeda dengan dirinya. Aku menatap kucing itu, kucing dengan
bulu yang sangat lembut berwarna hitam pekat dengan warna mata biru menyala. dia
menatap pintu yang terbuka itu, berlari dan mengeong seperti menyuruhku untuk
mengikutinya. Ya, aku mengikutinya berharap mendapatkan sesuatu yang membuat
kegusaran ini hilang. Entah apa yang terjadi, dunia seperti hampa, takku
kenali. Aku melihat pohon tak berdaun dari kejauhan, kucing itu tak
terlihat-dia menghilang tanpa jejak. Aku putuskan menapaki secara perlahan
tanpa alas kaki mengarah pada pohon tak berdaun itu. Tapi, anehnya diriku tidak
merasakan apapun, kaki ini terus bergerak mendekati pohon tak berdaun itu.
Serangan de ja vu kembali muncul kupikir.
***
DAVOS 1971
Aku berada di pinggiran jalan, di atas sebuah
jembatan jalanan yang selalu dilalui berbagai kendaraan. Mulutku membungkam hanya
melihat sekeliling di sana. Kemudian kepalaku dihadapkan dengan tulisan "Blaue Zone, Parkscheibe
obligatorich."
Tulisan
yang sangat asing dalam pikiranku. Ini sangat aneh, pikiranku terasa kosong.
Saat itu musim baru saja berganti, dedaunan
mulai berguguran pertanda musim akan berganti pada musim gugur. Cuaca pun sudah
mulai terasa dingin, aku menaikkan kerahku-menenggelamkan tangan kecilku di
dalam coutku. Aku berjalan kecil,
melihat sekeliling. Jalanan sangat sunyi, hanya ada dua atau tiga kendaraan
bergerak maju. Orang-orang menyibukkan diri dengan kesibukkannya. Aku hanya
berjalan santai menikmati setiap moment yang aku inginkan. "Entah apa yang
aku inginkan, tapi faktanya aku menginginkan kedamiaan."
Sesaat terbesit aku ingin mengunjungi rumah
nenekku, aku pergi menuju stasiun kereta api, gerbong terlihat bergerak
melambat, berhenti dan menurunkan penumpang. Aku berada di peron, menunggu
kereta terkahir pukul 11.30 menunjukkan
jam sudah bergerak, menandakan bawah
waktunya untuk makan siang. Aku mengurungkan makan siang di sini, dan makan
siang di tempat nenekku. Aku merogoh tasku, mencari dompet dan membelikan
selembar kertas uang untuk membeli tiket kereta.
Aku menunggu gerbong kereta dengan tujuan
rumah nenekku, tak butuh lama. kereta itu berhenti dan aku melangkah pelan
menaiki gerbong tersebut. kursi penumpang agak longsong, hanya ada beberapa
paruh baya yang mengisi kursi tersebut. Di samping dan juga depan kursi
tersebut terdapat sekumpulan remaja membawa beberapa kamera, mereka membidik
sesuatu dan lainnya membidik objek mereka satu sama lain. Kilatan cahaya
mengisi kereta, lalu seketika mataku terlihat buram dibuatnya- aku menutup
mataku menutup kilatan dan mataku terpejam sesaat. Lalu terbuka ketika kilatan
cahaya itu tidak menembus kelopak mataku. Kemana
suara mereka? Dan kemana cahaya kilatan kamera itu. Aku membuka mataku,
membukanya perlahan dan seketika aku berada di kehampaan yang dingin, suara
gemuruh badai salju terdengar. Aku melihat ada sebuah jejak kaki yang masih
terukir. Di sana ada sebuah kerangka tanpa pintu. Aku membuka pintu itu dan
berakhir pada sebuah ruang kosong, hampa dan tidak ada suara apapun menaungi
ruang itu. Dari sudut manapun, aku sama sekali tidak melihat, dan tidak mendengar
apapun. Suara bergemuruh terdengar di belakang punggungku, aku membalikkan
badan dan pintu tanpa kerangka terlihat kembali di sana.
***
LAKE LUGANO
1969
Seperti yang terlihat-aku berpergian cukup
jauh, di sana terdapat pohon tanpa daun-meyambutku dengan ramah, orang-orang
berlalu lalang memakai pakaian yang menandakan bahwa mereka sedang dalam
keadaan bahagia di tengah musim panas saat itu. Bunga-bunga bermekaran,
menyerbakkan baunya. Bergunduk berdekatan, warnanya sangat cantik-berwarna orange cerah. Di sana ada yang terduduk
sembari menyaksikan genangan tenang dari danau. Aku melihat sebuah bangunan. Tidak,
mungkin saja itu adalah sebuah gedung untuk perkantoran. Mereka terlihat kecil
dari pandangku yang cukup jauh jaraknya. (Garming) tidak buruk juga, walaupun
di sekeliling hanya tumpukan pohon dan juga tebing. Aku melihat kapal ferry
kecil bergerak lambat, di atasnya terdapat bendera putih.
Aku bertanya kepada seseorang, kenapa bendera
itu sangat besar dengan ukuran kapalnya yang cukup kecil.
“Permisi nyonya, apa bendera itu sengaja
dibuat seperti itu?” tanyaku. Salah satu nyonya disampingnya dengan rambut yang
disanggul menjawab. “Tidak! itu menandakan ada kematian nyata di sana. Kematian
yang didasarkan pada rasa kebencian.”
***
LAKE LUCERNE 1969
Aku melihat diriku dikelilingi oleh sebuah
danau, di atas gondola kecil. Melihat sekeliling, di sana terlihat ada sebuah
kereta bergerak ke arah berlawananan. Sepanjang apa yang kulihat hanya ada
tebing ngeri dan juga pepohonan, ada beberapa sebuah rumah menyerupai castle
juga. Aku melihat diriku berada di atas gondola bersama dengan seorang pria dan
juga wanita, pria itu sepertinya sudah paruh baya memakai jam emas dan juga
sweater yang dikenakannya. Lalu disampingnya ada seorang wanita bertudung ping
memakai kecamata, melihat maju dan tak bicara.
Tiba-tiba aku melihat ada gadis kecil berdiri
mematung di atas tebing, diantara gunung kapur di kejauhan sana, mengenakan
tudung kecil degan baju berenda sepertinya. Seorang pria dan wanita paruh baya
tidak menghiraukannya, apa hanya aku
seorang yang bisa melihatnya saja. Aku meminta kepada gondolier memberhentikan gondola ini dan bergegas menghampiri gadis
itu. Aku menatap dirinya sesaat setelah aku terengah-engah menghampiri dirinya.
Diapun menatapku dan berdiam diri kaku. Terlihat pucat dengan wajah lebam. “Kau
tidak apa-apa?” dia tidak menjawab hanya mematung, lalu angin tiba-tiba
menyibakkan butiran pasir kepadaku. Membuat mata ini terpejam sesaat. Aku
membuka mataku dan gadis itu tak terlihat, aku bergerak maju dan melihat sisi
tebing dan dia tidak ada di manapun.
***
CHILLON 1949
Di bukti tempat di mana segerombol sapi
menepi. Namun sapi itu tidak ada, yang ada hanya 3 orang laki-laki tidak mengenakan
baju,dan hanya memakai celana. Mereka bersenda gurau seraya membaca sebuah
koran berita, satu diantaranya menatapku dengan mata menyipit, pandangannya
tidak teralihkan, dia hanya melihatku dengan lekat. Aku berjalan sambil memapah
sepedaku, menunduk dan terus berjalan lurus karena begitu enggan melihat
tatapannya yang seperti itu. kedua pria disebelahnya berbisik kecil dan
memberikan isyarat kepada pria yang menatap lekat kepadaku. Melihat tingkah
mereka yang mencurigaka akupun memapah cepat sepedaku bergegas dan tidak ingin
menoleh lagi kearah mereka.
Tidak, sepertinya satu pria yang berada di
samping kiri tidak terlalu peduli dengan ucapan pria lain. Jarak pandangku
sudah tidak terlihat, aku bisa dengan tenang melihat pemandangan sekeliling,
bangunan castle menjulang dari beberapa rumah kecil, ada beberapa lahan yang
masih kosong melompong dan juga ada lahan yang sudah digarap oleh para petani
sekitar. Sepedaku aku goes dengan perlahan, agar bisa menyaksikan bagaimana
pemandangan ini bisa terlihat dengan baik.
Aku berada di kekosongan, hanya ada kapas
putih mengelilingi. Tak lama kemudian ada sebuah rumah di sana-seperti
menatapku lekat, menyuruhku untuk menyutubuhi kediamannya. Aku memasuki rumah
itu dan ada beberapa bayangan gelap sedang melakukan hal yang tidak kurang
pantas terhadap seorang wanita, aku tidak melihat bagaimana rupanya. Karena
pertunjukkan itu hanya diperankan oleh sebuah bayangan hitam dan juga legam.
Aku hanya mendengar suara rintihan dari gadis itu, dia berteriak cukup keras.
Namun, ketiga bayangan itu menggenggam erat gadis itu. tak ingin berlama di
sana aku pergi dan menutup pintu itu. Namun sialnya aku dihadapkan pada
kenyataan bahwa dunia tidak mempersilahkan diriku untuk beristriahat.
Aku tak peduli dengan semua ini, aku meninggalkan
kemisterian dan kegelapan di sana.
Dan aku bergerak tak beraturan dengan
kondisi yang sama. Di mana, kaki ini tak beralaskan apapun. Aku merasa lelah.
Aku tidak ingin melakukan apa-apa, aku hanya ingin berhenti. Aku merasa lesu,
rasanya sebagian diriku hancur. Rasanya sesuatu menekan dadaku, aku merasa
sangat frustasi-dan membuatku sedih. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku akan
seperti ini. Aku tak mengenali diriku, semua yang kualami terasa nyata. Namun,
aku dihantam oleh sebuah ilusi mengerikan. Aku berteriak cukup kencang, namun
suasana masih saja hampa dan juga terasa kosong. Secercah cahaya terlihat dalam
pintu dari kejauhan, aku memasukki pintu dengan ruang dimensi berbeda. Dibukanya pintu itu dan aku melihat sebuah
tempat yang aku impikan.
Aku berjalan sempoyongan, mengitari ilalang itu
dan juga semak belukar aku tidak terlalu peduli dengan rasa luka yang
diciptakan oleh duri dari semak itu, ku berjalan lalu melompat dan lagi ku
terduduk membisu, lesu. Melihat pada titik tuju yakni sebuah pohon tanpa daun
yang berhamburan-dengan warna awan kejinggaan mewarnainya. "Inikah surga yang kuinginkan."


Komentar
Posting Komentar