ANONIM TRAVELER


Gambar diambil dari Flickr

(Boleh aku meminta segala hal yang tak bisa dipinta di sana?)

Awan berubah menjadi hitam legam, memenuhi seisi langit dan tidak ada cahaya yang menyinari

Tidak! Di ujung sana aku melihat bulan memandangi, dia berwarna ke kekuningan seperti cahaya matahari. Lebih pekat dan juga legam. Jalanan tertuju padanya, seakan menyuruhku berjalan dan menggapainya.

Di sepanjang jalanan hanya terdapat rumput yang mengitari dengan semak belukar yang menaungi.

Seseorang dengan suara gemuruh disekelilingnya bergumam, “KEMARILAH, AKU AKAN MEMBUATMU LUPA AKAN SEMUA KENANGAN BURUKMU.”

Riuh  gemerisik dan juga debam hebat mengisi ruangan,  titik-titik kecil memadati ruangan-mengitari seisi kepala. Apa ini adalah ajal di mana aku tidak akan merasakan kehampaan cukup dalam, mengosongkan segala menyakitkan dalam memori?

Bayang-bayang terus berhamburan, menciptakan berbagai film kusut dalam benak, samar dan juga akromatik di dalamnya.  Aku merasa mual, sungguh ini sangat memabukkan.

Beberapa roll gulungan film dan samar terus mengitari dengan rekaman yang membuatku merasa kesakitan dibuatnya. Adegan pertama dari roll itu terhubung dengan adegan selanjutnya, mempertontonkan berbagai adegan kabur dan juga ekstremitas.

“H … A … N … C … U … R … K … A … N D … I … A … hacurkan semua raga dan jiwa dalam dirinya!!!”

Suara itu terbata-bata dalam adegan gulungan film itu, dengan suara teriakkan dan juga amukkan yang cukup intens.

***

APPENZEL 1988

            Di perbatasan darat dan juga lautan Appenzel pada siang hari pukul 13.30 siang. Aku pergi menelusuri jalanan, mengunjungi sebuah tempat makan bernama "Tabak Klaer" memasuki tempat makan itu, untuk mengisi perutku yang sudah bergemuruh.  Aku duduk di tempat terbuka, melihat orang-orang berlalu lalang sembari menunggu pesanan yang sudah kupesan. Hari itu cuaca sudah terasa dingin dengan awan keabuan, daun bergemerisik berjatuhan. Musim dingin tahun ini sepertinya akan menjadi musim dingin terpanjang bagiku, aku melipatkan jaketku dan menegakkan kerahku supaya leherku tetap hangat dibuatnya. Aku memesan secangkir cokelat panas terlebih dahulu kepada pelayan, “Permisi saya ingin memesan satu cangkir cokelat panas?”

Cokelat panas itu tiba dengan sangat cepat, aku menikmatinya;menyesapnya dan merasakannya dalam-dalam sehingga lidahku merasakan rasa pahit cukup manis. Tubuhku di lemaskan, bersender di atas kursi yang terlihat untuk sepasang pasangan. Cukup ironi tapi sepertinya aku menikmati kesendirian dan juga keheningan ini.

Kau tahu? Orang-orang selalu berkata bahwa sebuah keheningan merupakan tanda bahwa kau tidak perduli akan keberadaan orang lain.

Mengesampingkan hal itu pikiranku seperti tersamarkan oleh keramaian, seolah ingatan ini kabur dan menghilang secara perlahan. Aku tidak terlalu memusingkannnya dan terus melanjutkan perjalanan yang tidak berakhir ini tanpa tujuan yang tidak kumiliki. Sesaat kemudian ketika aku ingin menyerahkan beberapa lembar uang untuk membayar secangkir cokelat panas yang kupesan dan juga sebuah camilan, tiba-tiba aku terhuyung dan terjatuh. Aku tersadar sesaatnya dan berada di kekosongan, hanya ada kapas putih mengelilingi. Tak lama kemudian ada sebuah rumah di sana-seperti menatapku lekat, menyuruhku untuk menyutubuhi kediamannya. Aku bergerak tak beraturan dengan kondisi yang sama-di mana kaki ini tak beralaskan apapun.

***

SWITZERLAND 1950

“Apakah kamu ingin ikut dengan kami?” tanya dirinya dari kejauhan, sembari memerhatikan diriku yang sedang membaca buku di teras. “Ya, aku akan memikirkannya.” Jawab tenang diriku, beberapa saat aku menutup bukuku mengampiri dirinya dan menyetujui ajakannya.

Switzerland pada tahun 1950, cuaca terasa berangin. Aku melihat salju berjatuhan,melihat dalam kaca yang sudah berembun karena cuaca salju itu mulai berjatuhan secara acak, aku menuruni tangga, meminta izin kepada nenekku yang sedang terduduk membaca sebuah koran permberitaan.

“Nenek?”

“Sebentar, aku sedang membaca bagian terpenting dari berita ini.” Dia sama sekali tidak memandangku, hanya terpaku pada selambar kertas yang menyiarkan berita konflik palsu yang tak kunjung berakhir. Aku menunggunya sampai dia selesai dengan bacaannya. Koran itu ditutupnya menatapku heran, sembari bertanya. “Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Aku akan bersenang-senang dengan teman-temanku di gunung Alps, ini adalah hari pertama liburanku. Apakah kamu mengizinkannya?” aku bertanya penuh ragu, karena nenekku adalah sesosok wanita tegas dan keras. Namun, teramat baik bagiku. Tak butuh waktu lama, dia menjawab, “aku akan mengizinkannya selama itu membuatmu senang, sayang.” Mendengar hal itu aku kegirangan, aku tak ingin memperlihatkan ekspresi ini dan bergegas kembali ke kamar mempersiapkan segalanya untuk lusa nanti pergi menanjak gunung Alps  dan bermain skitting. Hari pertama aku menyiapkan berbagai pelengkapan untuk menanjak, pelengkapan itu tidak lebih hanya mempersiapkan baju tebal dan juga barang yang dipentingkan untuk berada di atas. Hari kedua aku dijemput oleh mereka, menaiki angkutan besar bernama C7 Jeep, kendaraan dengan badan terbuka yang bisa menampung 3-4 orang saja. Kebetulan kita hanya berempat dan mungkin saja yang lainnya akan menyusul dengan kendaraan yang serupa.  

"Hei, apakah kamu mempunyai semua perlengkapannya? bukankah kamu hanya mempunyai sebuah kondom di lemari ibumu." semua tertawa keji dan sambil menancapkan gas dengan laju yang sangat cepat.

Mereka terus mengejekku, namun disebelahku seorang wanita berbisik. Dia berkata untuk jangan menghiraukan perkataan busuk mereka, mereka hanya ingin bersenang-senang denganmu.

Aku mengangguk tanpa bersuara sepatah katapun.

Tersamarkan, aku tidak ingat pasti pukul berapa kejadian itu, pria yang membawa mobil C7 Jeep menyekapku beserta teman yang sudah mencoba menenangkanku. Aku diikat dalam kursi listrik, sedangkan wanita itu terduduk lesu tak bersuara di lorong sana. Sebuah kertas melingkar ditempel tepat dihadapanku, seseorang berteriak. “Wanita jalang, lihatlah sebuah lingkaran itu.” Aku bergidik lesu, meronta ingin pergi. Namun, situasi membuatku menuruti apa yang diucapkan lelaki itu. Aku menatap lingkaran tersebut, menatapnya lekat sembari ditarik rambutku oleh teman dari lelaki itu. Aku berusaha menatap sekeliling, mencari sesuatu untuk pergi dari situasi ini.

“Lihatlah ini jalang, kamu akan mendapatkan kesenangan di alam sana.”

Seketika kesadaranku hilang dan berakhir di tempat di mana aku merasakan kesan trauma yang cukup dalam terhadap seorang lelaki.

***

WEGGIS 1980

 Aku tidak ingat apa yang terjadi sebelum semua ini terjadi tapi aku berada di sebuah tempat, di mana seorang pria berambut berantakan membawa sebuah canvas yang berada digenggamannya, mengenakan cout yang memiliki lubang di mana-nana. Dia menatapku lekat, di dekat taman. Dia berdiri sembari terus melihat kearah jam yang sedang ia pakai, memalingkan pandanganku dan terus berjalan dengan kaki sedikit gugup.  Dari kejauhan aku masih merasakan dia teru memerhatikan diriku dari bidikan jauh. Sekarang dia berbeda, dia terlihat memakai baret berwarna cokelat. Menyibakkan rambut keemasannya di dalam baret itu. Tampaknya dia terlihat membawa sebuah buku kecil dan juga koper. Dia terus menatapku dari kejauhan. Namun sialnya mobil terus saja berlalu-lalang dan seketika orang itu lenyap dari pandangan.

Pikiranku kian intens, sesaat melihat jalanan tiba-tiba menjadi senyap dan sunyi. hanya ada suara gemuruh angin yang tercipta dari lirih pepohonan.

Aku melihat sekeliling, menatap lekat-lekat. “Siapapun, apakah ada seseorang di sini?!!”

sungguh ini terasa sunyi dan menyesakkan, seakan semua terhenti sejenak. Aku bergerak maju, mengetuk tiap rumah yang berada didekatku. Namun, ada sebuah rumah yang membuatku ingin bergerak maju menghampirinya. Aku membuka pintu rumah itu, suara krit kaku membuat pintu itu seperti tak pernah dipakai sebelumnya, sialnya rumah itupun kosong, ruang atapnya terlihat rendah dengan keramik dan juga pola yang diulang. Rumah itu memiliki aura sunyi dan sepi mencekam.

"Kamu membuatku gila atas perlakuanmu, apakah kamu akan terus seperti ini. KAU BODOH, DASAR JALANG." Ruangan menjadi riuh dengan suara teriakkan dan juga sarkasme yang terucap. Suara itu bergema ketika aku menginjakkan kaki di atas alas yang berderit, aku melihat perabotan Nampak bersih, mengitari seisi ruangan. Namun, anehnya aku tidak melihat seseorang dalam rumah itu.

***

SWITZERLAND 1952

Apakah ini adalah sebuah dejavu?

Aku berada di jalanan tempat di mana aku suka berjalan santai di sini, mencari ilalang di tepi danau dan pergi meminta nenekku memasakan sebuah cemilan yang terdiri dari kentang, keju, daging, bawang dan juga buah apel. Aku tidak memusingkan apa yang terjadi, kakiku bergerak dengan sendirinya menjumpai nenekku yang biasanya terduduk membaca sebuah koran di teras belakang. Aku membuka pintu berderit itu, harum masakan rosti tercium menyerbak ke dalam hidungku. “Nenek, sedang apa kau.” Tak ada jawaban, suara derit kayu yang kuinjakkan membuat suasana terasa asing bagiku seketika. Bau semerbak rosti tak tercium lagi, bau itu tergantikan oleh bau darah kental. Aku mengikuti bercak darah itu, dan melihat ada sebuah tangan tergeletak. Aku sedikit gusar, kalau-kalau terjadi sesuatu. Aku menghampiri tangan yang berlumur darah itu, mendekatinya perlahan dengan keberanian yang kukumpulkan. Dan suara kucing mengeong cukup keras, dia berada tepat di tangan itu. Tangan yang sudah dipotong entah oleh siapa dan tangan siapa itu. Aku berharap ini bukan nenekku, karena tangannya berbeda dengan dirinya. Aku menatap kucing itu, kucing dengan bulu yang sangat lembut berwarna hitam pekat dengan warna mata biru menyala. dia menatap pintu yang terbuka itu, berlari dan mengeong seperti menyuruhku untuk mengikutinya. Ya, aku mengikutinya berharap mendapatkan sesuatu yang membuat kegusaran ini hilang. Entah apa yang terjadi, dunia seperti hampa, takku kenali. Aku melihat pohon tak berdaun dari kejauhan, kucing itu tak terlihat-dia menghilang tanpa jejak. Aku putuskan menapaki secara perlahan tanpa alas kaki mengarah pada pohon tak berdaun itu. Tapi, anehnya diriku tidak merasakan apapun, kaki ini terus bergerak mendekati pohon tak berdaun itu.

Serangan de ja vu kembali muncul kupikir.

***

DAVOS 1971

Aku berada di pinggiran jalan, di atas sebuah jembatan jalanan yang selalu dilalui berbagai kendaraan. Mulutku membungkam hanya melihat sekeliling di sana. Kemudian kepalaku dihadapkan dengan tulisan "Blaue Zone, Parkscheibe obligatorich."

Tulisan yang sangat asing dalam pikiranku. Ini sangat aneh, pikiranku terasa kosong.

Saat itu musim baru saja berganti, dedaunan mulai berguguran pertanda musim akan berganti pada musim gugur. Cuaca pun sudah mulai terasa dingin, aku menaikkan kerahku-menenggelamkan tangan kecilku di dalam coutku. Aku berjalan kecil, melihat sekeliling. Jalanan sangat sunyi, hanya ada dua atau tiga kendaraan bergerak maju. Orang-orang menyibukkan diri dengan kesibukkannya. Aku hanya berjalan santai menikmati setiap moment yang aku inginkan. "Entah apa yang aku inginkan, tapi faktanya aku menginginkan kedamiaan."

Sesaat terbesit aku ingin mengunjungi rumah nenekku, aku pergi menuju stasiun kereta api, gerbong terlihat bergerak melambat, berhenti dan menurunkan penumpang. Aku berada di peron, menunggu kereta terkahir pukul 11.30 menunjukkan jam sudah bergerak, menandakan bawah  waktunya untuk makan siang. Aku mengurungkan makan siang di sini, dan makan siang di tempat nenekku. Aku merogoh tasku, mencari dompet dan membelikan selembar kertas uang untuk membeli tiket kereta.

Aku menunggu gerbong kereta dengan tujuan rumah nenekku, tak butuh lama. kereta itu berhenti dan aku melangkah pelan menaiki gerbong tersebut. kursi penumpang agak longsong, hanya ada beberapa paruh baya yang mengisi kursi tersebut. Di samping dan juga depan kursi tersebut terdapat sekumpulan remaja membawa beberapa kamera, mereka membidik sesuatu dan lainnya membidik objek mereka satu sama lain. Kilatan cahaya mengisi kereta, lalu seketika mataku terlihat buram dibuatnya- aku menutup mataku menutup kilatan dan mataku terpejam sesaat. Lalu terbuka ketika kilatan cahaya itu tidak menembus kelopak mataku. Kemana suara mereka? Dan kemana cahaya kilatan kamera itu. Aku membuka mataku, membukanya perlahan dan seketika aku berada di kehampaan yang dingin, suara gemuruh badai salju terdengar. Aku melihat ada sebuah jejak kaki yang masih terukir. Di sana ada sebuah kerangka tanpa pintu. Aku membuka pintu itu dan berakhir pada sebuah ruang kosong, hampa dan tidak ada suara apapun menaungi ruang itu. Dari sudut manapun, aku sama sekali tidak melihat, dan tidak mendengar apapun. Suara bergemuruh terdengar di belakang punggungku, aku membalikkan badan dan pintu tanpa kerangka terlihat kembali di sana.

***

LAKE LUGANO 1969

Seperti yang terlihat-aku berpergian cukup jauh, di sana terdapat pohon tanpa daun-meyambutku dengan ramah, orang-orang berlalu lalang memakai pakaian yang menandakan bahwa mereka sedang dalam keadaan bahagia di tengah musim panas saat itu. Bunga-bunga bermekaran, menyerbakkan baunya. Bergunduk berdekatan, warnanya sangat cantik-berwarna orange cerah. Di sana ada yang terduduk sembari menyaksikan genangan tenang dari danau. Aku melihat sebuah bangunan. Tidak, mungkin saja itu adalah sebuah gedung untuk perkantoran. Mereka terlihat kecil dari pandangku yang cukup jauh jaraknya. (Garming) tidak buruk juga, walaupun di sekeliling hanya tumpukan pohon dan juga tebing. Aku melihat kapal ferry kecil bergerak lambat, di atasnya terdapat bendera putih.

Aku bertanya kepada seseorang, kenapa bendera itu sangat besar dengan ukuran kapalnya yang cukup kecil.

“Permisi nyonya, apa bendera itu sengaja dibuat seperti itu?” tanyaku. Salah satu nyonya disampingnya dengan rambut yang disanggul menjawab. “Tidak! itu menandakan ada kematian nyata di sana. Kematian yang didasarkan pada rasa kebencian.”

***

LAKE LUCERNE 1969

Aku melihat diriku dikelilingi oleh sebuah danau, di atas gondola kecil. Melihat sekeliling, di sana terlihat ada sebuah kereta bergerak ke arah berlawananan. Sepanjang apa yang kulihat hanya ada tebing ngeri dan juga pepohonan, ada beberapa sebuah rumah menyerupai castle juga. Aku melihat diriku berada di atas gondola bersama dengan seorang pria dan juga wanita, pria itu sepertinya sudah paruh baya memakai jam emas dan juga sweater yang dikenakannya. Lalu disampingnya ada seorang wanita bertudung ping memakai kecamata, melihat maju dan tak bicara.

Tiba-tiba aku melihat ada gadis kecil berdiri mematung di atas tebing, diantara gunung kapur di kejauhan sana, mengenakan tudung kecil degan baju berenda sepertinya. Seorang pria dan wanita paruh baya tidak menghiraukannya, apa hanya aku seorang yang bisa melihatnya saja. Aku meminta kepada gondolier memberhentikan gondola ini dan bergegas menghampiri gadis itu. Aku menatap dirinya sesaat setelah aku terengah-engah menghampiri dirinya. Diapun menatapku dan berdiam diri kaku. Terlihat pucat dengan wajah lebam. “Kau tidak apa-apa?” dia tidak menjawab hanya mematung, lalu angin tiba-tiba menyibakkan butiran pasir kepadaku. Membuat mata ini terpejam sesaat. Aku membuka mataku dan gadis itu tak terlihat, aku bergerak maju dan melihat sisi tebing dan dia tidak ada di manapun.

*** 

CHILLON 1949

Di bukti tempat di mana segerombol sapi menepi. Namun sapi itu tidak ada, yang  ada hanya 3 orang laki-laki tidak mengenakan baju,dan hanya memakai celana. Mereka bersenda gurau seraya membaca sebuah koran berita, satu diantaranya menatapku dengan mata menyipit, pandangannya tidak teralihkan, dia hanya melihatku dengan lekat. Aku berjalan sambil memapah sepedaku, menunduk dan terus berjalan lurus karena begitu enggan melihat tatapannya yang seperti itu. kedua pria disebelahnya berbisik kecil dan memberikan isyarat kepada pria yang menatap lekat kepadaku. Melihat tingkah mereka yang mencurigaka akupun memapah cepat sepedaku bergegas dan tidak ingin menoleh lagi kearah mereka.

Tidak, sepertinya satu pria yang berada di samping kiri tidak terlalu peduli dengan ucapan pria lain. Jarak pandangku sudah tidak terlihat, aku bisa dengan tenang melihat pemandangan sekeliling, bangunan castle menjulang dari beberapa rumah kecil, ada beberapa lahan yang masih kosong melompong dan juga ada lahan yang sudah digarap oleh para petani sekitar. Sepedaku aku goes dengan perlahan, agar bisa menyaksikan bagaimana pemandangan ini bisa terlihat dengan baik.

Aku berada di kekosongan, hanya ada kapas putih mengelilingi. Tak lama kemudian ada sebuah rumah di sana-seperti menatapku lekat, menyuruhku untuk menyutubuhi kediamannya. Aku memasuki rumah itu dan ada beberapa bayangan gelap sedang melakukan hal yang tidak kurang pantas terhadap seorang wanita, aku tidak melihat bagaimana rupanya. Karena pertunjukkan itu hanya diperankan oleh sebuah bayangan hitam dan juga legam. Aku hanya mendengar suara rintihan dari gadis itu, dia berteriak cukup keras. Namun, ketiga bayangan itu menggenggam erat gadis itu. tak ingin berlama di sana aku pergi dan menutup pintu itu. Namun sialnya aku dihadapkan pada kenyataan bahwa dunia tidak mempersilahkan diriku untuk beristriahat.

Aku tak peduli dengan semua ini, aku meninggalkan kemisterian dan kegelapan di sana.  Dan aku bergerak tak beraturan dengan kondisi yang sama. Di mana, kaki ini tak beralaskan apapun. Aku merasa lelah. Aku tidak ingin melakukan apa-apa, aku hanya ingin berhenti. Aku merasa lesu, rasanya sebagian diriku hancur. Rasanya sesuatu menekan dadaku, aku merasa sangat frustasi-dan membuatku sedih. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku akan seperti ini. Aku tak mengenali diriku, semua yang kualami terasa nyata. Namun, aku dihantam oleh sebuah ilusi mengerikan. Aku berteriak cukup kencang, namun suasana masih saja hampa dan juga terasa kosong. Secercah cahaya terlihat dalam pintu dari kejauhan, aku memasukki pintu dengan ruang dimensi berbeda.  Dibukanya pintu itu dan aku melihat sebuah tempat yang aku impikan.

Aku berjalan sempoyongan, mengitari ilalang itu dan juga semak belukar aku tidak terlalu peduli dengan rasa luka yang diciptakan oleh duri dari semak itu, ku berjalan lalu melompat dan lagi ku terduduk membisu, lesu. Melihat pada titik tuju yakni sebuah pohon tanpa daun yang berhamburan-dengan warna awan kejinggaan mewarnainya. "Inikah surga yang kuinginkan."


 


Komentar

Postingan Populer