DI UJUNG BUANA

Image by Pinterest

Anak kecil itu terdiam di sudut rumah yang penuh dengan rayap dari sangkar laba-laba, rumahnya seperti kapal pecah. Alunan melodi mengernyit menggema mengelilingi rumah yang sudah lapuk keberadaannya, lalu ada suara derap kaki menghampiri dirinya. Seketika sang anak terbujur kaku sembari menahan rasa sakit pada pelupuk matanya di karenakan serangan dari sang ibu yang telah melahirkannya.

“Himono !”  suara tinggi menggema dari luar. Tampak seorang wanita cantik memakai dress hitam dengan balutan bulu hangat yang mengelilingi leher panjangnya.

Apakah kau ada di dalam !!!.

Wanita itu terus memanggil seseorang dengan raut muka marah dan murka. Puntung rokokpun mendapat amukannya, dia melempar puntung rokok yang belum habis dan menginjaknya dengan penuh amarah yang meluap

            Kesabarannya semakin liar, akhirnya dia memasukki rumah itu dengan derap kaki mengancam, hentakkan sepatu hak tingginya akan membuat seseorang merasa risi dan jengkel terhadapnya. Namun, sayangnya rumah itu berada di tengah hutan dan tidak ada siapapun yang tinggal kecuali mereka berdua.

 Himono!!! di mana kau, apakah kau ingiaku  terus  menyiksamu  karena  ulah  kekanak-kanakanmu, Wanita itu menyerocos tanpa henti, memanggil nama anak kecil dari dalam.

Tampak terlihat seorang anak kecil memakai baju lusuh sedang membersihkan gudang, membawa gentong anggur dengan terpogoh-pogoh. Aku seperti mendengar suara dari luar, ucap batinnya.

Anak kecil itu pergi keluar, meletakkan gentong anggur yang sudah dia pindahkan sebelumnya. Dia mengibaskan debu dari bajunya yang lusuh, menaikki tangga dengan terengah-engah. Derit kayu mengisi suara dengungan di dalam gudang tersebut.

            Dari kejauhan, terlihat seorang wanita memakai pakaian hitam senada yang pekat. Rambutnya terurai rapih dan berkilau. Wajahnya menghadap ke arah jendela besar dengan gorden tua berwarna keputihan.

“Mohon maaf ibu, aku tidak mendengar suaramu.” Anak kecil itu menunduk lesu.

Namun, wanita itu tidak membalas hanya terdiam membeku.

“Aku tadi sedang membersihkan barang-barang yang berada di gudang. Tolong maafkan aku.” Ucapnya gemetaran. Tanpa kata-kata, wanita itu menghampiri anak kecil itu. Mengangkat dagunya, menatap matanya tanpa berkata-kata. Lalu menamparnya dengan keras. Anak kecil itu hanya terdiam, merintih kesakitan – matanya berkaca-kaca. Kedua bola mata itu bertatap penuh kesakitan dan penyesalan.

“Jangan kau sentuh botol-botol whisky yang ada di rak itu. Jika botol-botol itu tidak berada tepat di tempatnya. Saya pastikan, kamu akan saya kurung di dalam kamar tua dekat gudang!”

Wanita itu pergi melemparkan wajah cantiknya, dengan raut muka yang kaku dan penuh amarah.

***

Himono seorang anak kecil yang tidak tahu menahu bagaimana rasanya kebahagiaan.  Arti kata ‘Ibu’ baginya adalah seorang majikan yang harus dia layani apapun keinginannya. Sedari bayi hingga saat ini, dia tidak pernah merasakan bagaimana kehangatan juga kasih sayang dari seorang ibu. Dia menjadi dewasa di usia yang seharusnya mengalami masa-masa terbaik dalam kehidupannya.

Benaknya selalu dipenuhi ketidaktahuan, keambiguan, ketidakpastian dan juga ketidakbahagiaan. Apapun itu dia berpikir layaknya orang dewasa yang mengkhawatirkan bagaimana esok akan terjadi dan bagaimana menghadapi masa depan yang tidak pasti. Itulah Himono, bocah kecil yang dipaksa menjadi dewasa di usianya yang menginjak 7 tahun.

Dalam moment tertentu dia selalu berpikir bahwa dia bukanlah anak yang dilahirkan ibunya. Bisa kamu bayangkan, mana ada seorang ibu menghancurkan mental serta fisik anaknya. Apakah dunia gila? Ataukah seorang ibu mengalami kegilaan di dalam ruang lingkup kehidupannya. Entahlah, himono tidak akan berpikir sejauh itu. Dia berusaha meyakinkan dirinya, bahwa dia terlahir kedunia dengan alasan tertentu. Neneknya selalu berpesan, ‘hiduplah seperti biasa, jika ada sesuatu di luar dugaan. Anggap saja itu adalah tugas kita berada di dunia’

            Nenek himono meninggalal saat dia masih berumur 5 tahun, masa kecilnya tidak terlalu terpuruk. Karena neneknya menjadi tameng bagi dirinya, ketika dirinya merasakan bahwa ibunya tidak menginginkannya.

***

Malam hari itu terasa begitu dingin, salju turun begitu cepat di bulan November. Asap mengepul keluar dari bibir putih himono, tangannya di balut dengan sarung tangan lusuh dan robek. Kayu bakar ini basah, bagaimana aku mengeringkannya. Himono tidak pernah banyak bicara, batinnya menjadi teman terbaiknya untuk berbicara keluh-kesahnya. Himono mengambil kayu bakar itu dengan hati-hati, bongkahan kayu yang besar dia potong terlebih dahulu menjadi kecil. Sesekali dia menatap langit, berdoa atas neneknya yang telah mati. Lalu melanjutkan kembali pekerjaannya, bongkahan kayu yang besar sudah dia potong menjadi ukuran kecil. Memasukkannya dalam gerobak yang dia bawa sebelumnya. Cukup berat, namun sepertinya himono sudah memiliki kekuatan.

Ditemani suara burung hantu, himono melangkah dan membawa kayu tersebut.

***

Aku tidak berpikir untuk melahirkannya, namun rasanya ada sesuatu yang menghalangiku.

Pagi hari begitu sibuk, jam berdenting menunjukkan pukul 05.45, Himono masih terlelap di atas karung goni yang dia tumpuk sedemikian rupa, agar tubuhnya tidak mudah di serang oleh hawa panas ataupun dingin. Jam terus melaju menunjukkan pukul 06.00 tepat, jam antic besar dengan lonceng di dalamnya berdenting, membangunkan Himono dari kejauhan. Himono tersentak dan dia bergegas bangun untuk segera menyiapkan apa yang diperlukan oleh Ibunya.

Suara burung berkicau dari luar, dedaunan berjatuhan. Anginpun mengiringi mereka dalam balutan kehangatan pagi hari, di selimuti matahari. Pohon pinus mengeluarkan suara aman dan tenang. Itulah suasana pagi hari di kediaman mereka.

Namun, sesuatu terjadi di hari itu. Menjadi sebuah kefatalan dan mulainya sebuah kesengsaraan.

Himono menyiapkan segelas teh kesukaan ibunya di pagi hari, kemudian dia membawanya dengan tergesa-gesa.

Cangkir itu bergoyang tak karuan, teh yang berada di dalamnyapun tumpah ruah. Derak cangkir memenuhi seisi ruangan, menghentakkan lamunan Ibunya yang berada di depan jendela sembari membawa pistol Night Hawk Custom (AS).

“Apa yang telah kau lakukan anak keparat!”

“Lagi-lagi kau menyulut amarahku, apakah kamu tidak puas dengan keberadaanmu di dunia ini?! SIALAN.”

Mukanya memerah menjadi-jadi, semua urat tampak terlihat dari segala sisi. Wanita itu mengamuk bak seperti orang yang dirasuki, tiba-tiba dia menodong pistol yang dibawanya kearah Himono yang menurunduk tak bergeming. Jarak pistol serta dahinya hanya terpaut beberapa centi, jari jemarinya yang ditutupi oleh sarung tangan dari bahan sutra memutar pelatuk pistol itu.

Oh Tuhan, apakah aku akan mati di tangan ibuku sendiri. Himono berserah atas semuanya, menerima apa yang akan menjadi nasibnya. Himono menunduk lesu, air matanya berlinang tak karuan – matanya dia tutup rapat-rapat. Namun, telinganya menerima sinyal suara.

Rintihan kecil terdengar dari wanita yang melahirkannya.

Dia bergetar hebat seraya mencaci maki Himono yang berada tepat dihadapannya.

“Kau tahu! Aku begitu membencimu, kenapa kau terlahir di saat aku membenci dunia. Kau terlahir di saat aku merasa gusar akan dunia.”

“Kau terlahir dengan riang penuh sukacita, sedangkan aku menderita.”

“Aku meringis kesakitan dibuatnya, menyimpan dendam dan penuh luka karena pria brengsek itu.”

            Suara itu terdengar serak dan parau, sedikit suara tangisan keluar. Beberapa lama kemudian hilang dan tak terdengar. Himono, masih menutup matanya. Penuh tanda tanya, apakah wanita itu sudah tiada dihadapannya.

***

Musim semi pada tanggal 21 Juli 1995, sebuah pesta untuk para kasino dilaksanakan di sebuah kastil megah di ujung selatan. Saat itu petir menyambar, hujan mengguyur daerah itu. Pesta itu sangat meriah – bermandikan segala kemewahan, dan penuh kegembiraan. Pesta itu dirayakan oleh beberapa para bos mafia serta kasino untuk merayakan ulangtahun legenda bos dari para mafia dan kasino. Para undangan terdiri dari konglomerat dan juga para pemegang kasino terkenal. Semua orang bersuka cita merayakannya, meminum beberapa wisky ternama yang sudah diawetkan beberapa puluh tahun lamanya.

Tampak terlihat, sebuah wanita cantik nan karismatik memakai gaun berwarna merah, sedang menatap rembulan sembari menyesap rokok. Kepulan asap rokok menemaninya sembari melihat rembulan indah yang baru terlihat ketika hujan badai menerpa. Lalu, seorang lelaki berpakaian rapi dengan rambut klimisnya mendekati wanita itu. Membawa dua gelas wine yang dia bawa dari ruangan.

Sedang apa kau nona cantik, kenapa kau tidak bergabung dengan mereka?.

Mukanya bermuram durjana, wanita itu tidak menafikan perkataan lelaki itu. Namun, lelaki it uterus menawarkan segelas wine harum, dan membuat wanita itu tergoda oleh semerbak bau minuman itu.

“Apa maumu?!”

“Aku hanya ingin kenal lebih dalam dengan kau nona cantik.”

Wanita itu tidak ingin berlama-lama berinteraksi dengan lelaki itu, lalu meneguk segelas wine yang di bawa lelaki itu.

“Ternyata kau wanita yang sangat menarik.

Segelas wine itu menjadi sebuah bencana besar bagi diriku, lelaki itu merupakan musuh dari keluarga besarku. Hari itu aku tidak mengingat apapun, hanya sekilas melihat senyum berengsek yang terlihat dibenakku. Aku terbangun di atas Kasur besar dengan tirai mengelilingi Kasurnya. Aku kaget bukan kepalang, tubuhku tidak terbalut apapun, hanya seutas kain menerawang yang menutupiku. SIALAN, sial…kenapa aku sungguh bodoh.

***

Wanita itu menatap himono dengan penuh rasa benci, lalu pistolpun di masukkan ke dalam tas. Setelah itu dia pergi dengan mata yang menetes pada pipi meronanya. Himono bertanya tanya apakah dia terlahir karena ketidak sengajaan atau ketidakadaan rasa cinta kasih sayang antara mereka berdua, himono berpikir bahwa keberadaannya merupakan sebuah aib yang tidak bisa terhapus dalam kehidupan Ibunya.

ibu!!!...ibu. Tangis pecah memenuhi ruangan, Himono tak sanggup berlari mengejar sang Ibu. Badannya melemah-lunglai, dan setelahnya dia tersungkur dengan mata menatap kearah ibunya.

Wanita itu sama sekali tidak terpengaruh, bergerak melaju tanpa menoleh kearah Himono yang terbujur kaku.

Burung berkicau seperti biasa, Himono terbangun di tengah ruang tamu menghadap kea rah pintu. Wajahnya sembab dan putih kaku. Dia mengacuhkan peristiwa yang lalu, berdiri seolah-olah tak ingin mengingat hal yang begitu yang menyakitkan. Dia bergerak menuju kedapur, melakukan rutinitasnya melayani sang Ibu. Sorot matanya terlihat kosong, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Sebuah gelas yang dipegangnya tak terisi oleh air, mengetuk pintu kamar ibunya dan membukanya secara perlahan.

Namun, ruangan itu sepi tanpa penghuni. Kosong dan tidak ada jejak keberadaan Ibunya. Himono tersentak, membanting gelas yang dibawanya dan bergegas lari tanpa tahu arah yang akan dia tuju.

Ibu kemana kau pergi? Haruskah aku merasakan pahit kehidupan ini lagi.

Ibu kemana kau pergi? Haruskah aku mengorbankan diri lagi?

Ibu … ibu tolonglah jawab diriku.

 

Jerit dirinya, mengisi seisi relung pikirannya. Membuat air matanya berlinang tanpa henti.

 

Maafkan aku atas keberadaanku di dunia ini, maafkan aku karena diriku kau menderita.

Himono terus menyalahkan diri sendiri.

***

Beberapa tahun lamanya, Himono masih saja mencari Ibunya, kesunyian serta kehampaan membuat dirinya hancur melebihi sebelumnya. Badannya kurus bak ranting yang menggantung di atas pohon. Dia terus-menerus bertanya pada semua orang yang dijumpainya, menanyakan apakah mereka mengatahui Ibunya? Menanyakan apakah Ibunya baik-baik saja? Dan menanyakan apakah Ibunya bahagia di manapun dia berada.

Kemudian, hal itu membuat dirinya lupa. Dia berada di ujung buana, berada di lembah entah-berantah. Himono menepi di bawah rindangnya pohon maple, tubuhnya mulai lesu dan tak bertenaga. Tiba-tiba sesosok lelaki datang menghampiri dan bercerita masa kelamnya, lelaki itu menyorocos tanpa henti, dan aku tersadar  apa yang dia ceritakan adalah ibuku, wanita yang dicintainya, lelaki itu mencari keberadaaan ibuku yang hilang tanpa jejak.

Nak, apa yang kau lakukan di sini sendirian.

Himono tak menjawab, deru nafasnya kian melemah. Matanya tertutup secara perlahan. Lelaki itu tak berbicara, menatap langit kebiruan dengan sunyi sepi.

“Hidupmu mungkin tidak akan seperti ini karena diriku nak.” Suaranya bergemetar, dia seperti mengetahui bahwa itu adalah kalimat terakhir seorang Ayah kepada anaknya.

Himono terdiam tak menjawab, hanya ada semilir angin yang menyertai. 

 

Komentar

Postingan Populer